Login With Facebook

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.
Tampilkan postingan dengan label bursa kerja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bursa kerja. Tampilkan semua postingan

Berbagi dengan Allah


Dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Pengasih
Segala puji bagi Allah, tuhan sekalian alam
Maha Pemurah, Maha Pengasih
Penguasa hari pembalasan
Hanya kepada-Mu kami menyembah, hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan
Tunjukilah kiranya kami jalan yang lurus

Jalan mereka yang Kaulimpahi anugerah, bukan mereka yang kena murka dan bukan mereka yang sesat. (Q. 1:1-7)

Segala puji bagi Allah, yang dengan kasih sayang-Nya telah menghadiahkan kepada kita surah Fatihah.

Segala puji bagi Allah, yang telah memberikan kepada kita ayat-ayat penghibur yang demikian bagus, ayat-ayat kecintaan yang selalu kita ulang-ucapkan dan kita ulang lagi dengan sayang, ayat-ayat pegangan di tengah gejolak hidup dunia dan bekal kita menempuh perjalanan akhirat yang jauh dan panjang.

Segala puji bagi Allah yang telah membuatkan untuk kita sebuah gerbang tempat kita bisa berbisik-bisik kepada-Nya dalam sembahyang, tempat orang terhormat, kaya, sukses, megah dan bangga dipaksa mendarat ke landasan semula dan mendapati kembali jati dirinya yang sama sekali tidak berlebih atau berkurang dari orang kebanyakan, tempat orang-orang melarat, gagal, bingung, terlempar, hina, ditindas, ditipu, dikhianati, dijauhi hampir semua orang dan memang tidak dianggap berguna, bisa mengangkat tangan arah telinga, mengucapkan takbir pertama dan mulai melafalkan ayat-ayatnya, dan boleh menangis karena memperoleh Kawan Sejati, tumpuan mencurahkan seluruh ihwal hati, mendapatkan kesadaran betapa dirinya absah, hidupnya punya tujuan dan kehadirannya demikian berarti.

Segala puji bagi Tuhan yang telah menghadiahkan kepada kita sebuah simpul yang kecil sahaja, yang bisa kita ciumi, kita tempelkan di pipi dan kita lekatkan ke dada, sebuah rangkuman mungil dari keseluruhan sabda agung Kitab Suci. Surah Fatihah. Surah Fatihah. Dari Abu Hurairah r.a., dituturkan, Nabi s.a.w. bertanya kepada Ubay r.a.: "Maukah engkau kuberi tahu sebuah surah yang di dalam Taurat, atau Injil, juga Al-Quran, tidak diturunkan yang seperti itu?"

"Tentu saja, ya Rasulullah."

"Itulah Fatihatul Kitab," kata beliau. "Dialah Tujuh yang Diulang-ulang dan Quran yang Agung..."

Sembilan Buah Nama. Al-Fatihah terdiri atas tujuh ayat. Ini disepakati. Atau 27 kata (dalam bahasa aslinya), atau 140 huruf. (Al-Khazin, Lubabut Ta'wil, I:11). Para peneliti hanya berbeda pendapat mengenai ayat mana yang menjadikan surah ini tujuh ayat. Mayoritas ulama klasik Kufah memandangnya tujuh ayat bersama basmalah (lafal bismillah). Ini diriwayatkan dari sekelompok sahabat Nabi s.a.w. dan para tabi'in. Pendapat kedua: tujuh ayat tanpa basmalah. Dalam hal ini ayat ketujuh adalah Ghairil maghdhuubi 'alaihim waladh-dhaalliin. Ini keyakinan mayoritas qari Madinah dan mereka yang setuju. (Ath-Thabari, Jami'ul Bayan, I:48).

Ada sejumlah nama untuk rangkaian ayat ini--dan banyaknya nama memang lazim menunjukkan kebesaran yang diberi nama. Pertama, Fatihatul Kitab. Disebut demikian karena dengan ayat-ayat itu Al-Quran dibuka, dengan itu penulisan mushaf-mushafnya dimulai, dan dengan itu pula sembahyang diawali. Kedua, surah Al-Hamd (Pujian)--karena dimulai dengan alhamdu lillah. Ketiga, Ummul Quran atau Ummul Kitab (umm = ibu), karena dia pondasi Al-Quran. Ada juga yang berkata: karena dia imam untuk semua surah yang mengiringinya dalam Al-Quran. (Al-Khazin: loc. cit.).

Atau, karena ia meliputi seluruh makna yang terkandung dalam Al-Quran. Yakni, pujian kepada Allah Ta'ala yang memang Dzat yang selayaknya, laku ibadah dengan menetapi perintah dan larangan, serta berita gembira dan ancaman. (Az-Zamakhsyari, Al-Kasysyaf, I:23).

Mengenai pujian, yakni pengenaan sifat-sifat kesempurnaan pada Allah Ta'ala, itu jelas kiranya. Sedangkan ibadah yang dimaksudkan itu berada dalam Iyyaaka na'budu ("Kepada-Mu kami menyembah"). Karena ibadah adalah laku seorang hamba memenuhi tuntutan penyembahan dan apa yang membangun laku itu, seperti kepatuhan kepada semua perintah Al-Maula (Sang Pelindung) dan kepada larangan-Nya. Atau, faktor ibadah itu terletak di dalam ash-shiraathal mustaqiim ("jalan yang lurus"). Sebab yang dimaksudkan adalah agama Islam, yang mengandung hukum-hukum. Atau, di dalam alhamdu lillaah--karena ini pengajaran kepada para hamba, yang maknanya: "Katakan: 'Segala puji bagi Allah'..." Sedangkan perintah melakukan sesuatu yang bersifat wajib mengharuskan pelarangan apa saja yang menjadi lawannya.

Sementara itu, mengenai berita gembira dan ancaman, itu berada dalam an'amta 'alaihim ("Kaulimpahi anugerah") dan almaghdhuubi 'alaihim ("yang kena murka"). Atau dalam yaumid diin ("hari pembalasan"), karena ini mengandung faktor-faktor pahala dan hukuman.

Adapun maksud pembatasan tujuan-tujuan Al-Quran yang luhur itu ke dalam landasan yang tiga di atas adalah bahwa kitab suci ini diturunkan sebagai bimbingan kepada para hamba bagi pengenalan tempat berangkat dan tempat pulang. Yakni agar mereka menunaikan hak Pencipta dengan menuruti apa-apa yang Dia perintahkan dan Dia larang, dan menyimpan, dengan itu, pahala yang besar untuk negeri tempat berpulang.

Atau, dengan ungkapan lain, Al-Quran diturunkan untuk menjamin kebahagiaan insan, dan itu dengan mengenal pelindungnya dan menyambungkan diri kepada-Nya dengan segala sarana yang mendekatkannya dengan Dia dan menyingkiri segala yang menjauhkanya daripada-Nya. Tidak boleh tidak, untuk menjalin hubungan itu diperlukan pendorong. Dan itulah berita gembira (al-wa'd). Sedangkan untuk penyingkiran diri diperlukan penghardik, dan itulah ancaman (al-wa'iid). Kalaulah tidak dengan yang dua itu, tentulah kemalasan yang sangat alami itu menguasai jiwa, bertahta segala rangsang hawa nafsu makhluk manusia, sementara jiwa tertutup dari hadirat Cahaya akibat kegelapan yang tiap bagiannya lebih pekat dari yang selebihnya.

Surah Perbendaharaan. Tidak bisa dikatakan bahwa banyak surah dalam Al-Quran mengandung makna-makna tersebut. Tidak pula mereka dinamai Ummul Quran. Karena surah ini didahulukan dari segala surah yang lain di dalam letak ... sedangkan dia mengandung seluruh makna yang sudah disebut secara global, dengan tertib isi yang bagus, kemudian dirinci dalam surah-surah berikutnya, sehingga surah ini turun dalam posisi ibarat Mekah dibanding segala wilayah ... Maka seperti halnya Mekah menjadi ibu negeri (Ummul Qura), demikian pula Fatihah menjadi Ummul Quran (Induk Al-Quran). (Al-Jurjani, Hasyiah, dalam Zamakhsyari, op. cit.:23n-24n).

Tetapi dari jurusan kandungan itu juga ia disebut, sebagai nama keempat, surah Kanz (Perbendaharaan). Adapun dinamakannya dia surah Shalah, sebagai nama kelima, adalah karena ia, berkat pembacaannya dalam salat, menjadi surah yang utama atau yang memuaskan. (Zamakhsyari, op. cit.:24). Dengan kata lain, pewajiban pembacaan Fatihah di dalam salat menjadikan surah ini punya fadhilah (keutamaan), menurut mazhab Abu Hanifah, atau surah yang memuaskan menurut mazhab Syafi'i. (Jurjani, op. cit.:24n). Itu di samping, sebagai nama keenam, ia disebut juga surah Syifaa' (Obat) atau Syafiah (Yang Mengobati). (Zamakhsyari: loc. cit.).

Adapun nama ketujuh adalah yang disebut resmi dalam Al-Quran: As-Sab'ul Matsani (Tujuh yang Diulang), karena ia diulang-ulang melafalkannya di dalam salat, dibaca di tiap rakaat. (Al-Khazin: loc. cit.). Ibn Jarir meriwayatkan dari sumber pertama, Abu Raja', yang bertanya kepada Al-Hasan mengenai firman "Dan sungguh sudah Aku berikan kepada engkau Tujuh yang Diulang-ulang dan Quran yang Agung" (Q. 15:87). Kata Al-Hasan, "Itu Fatihatul Kitab (surah Fatihah)."

Lalu Al-Hasan kembali ditanya soal itu, "sedangkan aku (kata Abu Raja') mendengar." Al-Hasan lalu membaca surah tersebut: Alhamdu lillaahi rabbil' aalamiin, sampai ke penutup. Kemudian berkata, "Diulang di setiap pembacaan"--atau, katanya, "di setiap sembahyang" (keraguan dari Abu Ja'far Thabari). "Diulang" itulah yang dimaksudkan dengan al-matsaanii, sebagai nama lain dari Fatihah. Karena itu adalah Fatihah yang dimaksudkan Abu Najm Al-'Ajali dengan kata terakhir petikan kasidahnya berikut ini:

Alhamdu lillaahil ladzii 'aafaanii

Wa kulla khairin ba'dahuu a'thaanii

Minal Qur'aani wa minal Matsaanii

Puji Allah yang telah berkenan memelihara diriku ini

Dan segala yang baik yang Dia berikan kepadaku selain ini

Berupa Al-Quran serta Al-Matsani

(Thabari: loc. cit.).

Tetapi, bisa juga al-matsaanii berasal dari istitsnaa' (pengkhususan, pengecualian). Ini karena Allah mengkhususkannya hanya untuk umat Muhammad dan menyimpannya, tidak menurunkannya, kepada yang lain. Di samping itu, tidak tertutup kemungkinan ia disebut surah yang "berulang-ulang" karena diturunkan dua kali.

Nama kedelapan adalah Al-Wafiah (Yang Lengkap). Ini karena dia tidak dibagi di dalam salat--tidak dibaca hanya sebagian--seperti surah-surah lain. Sedangkan nama kesembilan Al-Kafiah (Yang Mencukupi), karena dia mencukupi yang lain-lain di dalam salat, sementara yang lain-lain tidak bisa menggantikannya. Untuk salat, seperti yang kita tahu, orang hanya wajib membaca Fatihah dan bukan atau tanpa yang lain.

Hakikat Pembagian. Hadis Abu Sa'id ibn Al-Ma'la. Ia bertutur: "Aku bersembahyang di masjid. Rasulullah memanggilku. Aku tidak menjawab. Baru kemudian aku datang, dan berkata, 'Ya Rasulallah, barusan saya bersembahyang.' Sahut beliau, 'Bukankah Allah sudah berfirman, "Sambutlah Allah dan Rasul-Nya kalau memanggil kamu".' Kemudian kata beliau, 'Akan kuberi tahu kamu sebuah surah, yang adalah surah paling agung dalam Al-Quran, sebelum kamu keluar dari masjid.' Lalu beliau mengambil tanganku. Ketika beliau sendiri bermaksud meninggalkan masjid, aku yang mengingatkan beliau: 'Ya Rasulallah, bukankah Bapak berkata, "Akan kuberi tahu kamu sebuah surah yang adalah surah paling agung dalam Al-Quran"?' Sabda beliau: 'Alhamdu lillaahi rabbil 'aalamiin. Dialah "Tujuh yang Diulang-ulang" dan "Quran yang Agung" yang aku terima'." (Riwayat Malik).

Dari Ubay ibn Ka'b r.a., katanya: Sabda Rasulullah s.a.w., "Allah tidak menurunkan di dalam Taurat maupun Injil yang sebanding dengan Ummul Quran. Dia adalah Tujuh yang Diulang-ulang dan Al-Quran yang Agung. 'Dia terbagi antara Aku dan hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang dia minta." (Riwayat Turmudzi dan Nasa'i).

Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Siapa saja yang mengerjakan satu salat tanpa membaca Ummul Quran maka dia tidak lengkap. Tidak lengkap. Tidak lengkap." Sang perawi menyahut: "Wahai Abu Hurairah. Terkadang saya berada di belakang imam." "Abu Hurairah menyentuh lenganku (perawi) dan berkata, 'Baca sajalah diam-diam, Anak Parsi. Aku mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda, "Berfirman Allah Tabaraka Wata'ala, 'Aku sudah membagi salat antara Aku dan para hamba-Ku menjadi dua bagian. Separo untuk-Ku dan separo untuk hamba-Ku, dan hamba-Ku mendapat yang dia minta.'

Pada ketika si hamba mengucapkan Alhamdu lillaahi rabbil 'aalamiin, berkata Allah, 'Hamba-Ku memuji Aku'. Ketika ia mengucapkan Ar-rahmaanir Rahiim ("Maha Pemurah Maha Pengasih"), berfirman Allah, 'Aku menanggung hamba-Ku.' Ketika ia mengucapkan Maaliki yaumiddiin ("Penguasa hari pembalasan"), Allah berfirman, 'Hamba-Ku mengagungkan Aku'--dan mungkin juga kata-kata itu 'Hamba-Ku menyerahkan urusannya kepada-Ku.'

Lalu, ketika ia berkata, Iyyaaka na'budu wa-iyyaaka nasta'iin (Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan), firman Allah: "Ini antara Aku dan hamba-Ku, dan untuk hamba-Ku apa yang dia minta." Sedangkan ketika ia melafalkan Ihdinash shiraathal mustaqiim, shiraathal ladziina an'amta 'alaihim, ghairil maghdhuubi 'alaihim waladh-dhaalliin ("Tunjukilah kiranya kami jalan yang lurus, Jalan mereka yang Kaulimpahi anugerah, bukan mereka yang kena murka dan bukan mereka yang sesat"), Allah berfirman, 'Yang ini untuk hamba-Ku. Hamba-Ku mendapat yang dia minta'."

Syahdan, hakikat pembagian, yang dijadikan-Nya antara Dia dan hamba-Nya, itu pulang kepada makna, bukan kepada lafal. Karena surah ini, dari jurusan makna, "separonya pujian dan separonya permohonan dan doa". Ini pembagian menurut Al-Khazin, senada dengan hadis di atas, lebih global dibanding yang dibuat Zamakhsyari dan diuraikan Jurjani. Bagian pujian selesai pada Iyyaaka na'budu, sedangkan wa iyyaaka nasta'iin sudah termasuk bagian doa. Karena itulah Ia berfirman, "Ini antara Aku dan hamba-Ku. Hamba-Ku mendapat apa yang dia minta." (Khazin, op. cit.:11-12). Amin.

KEINGINAN ITU MEMBUTAKAN


Salah satu acara tetap yang diadakan oleh pengelola web site saya adalah chatting. Diantara sekian chatting yang sudah berlalu, topik yang mendatangkan pengunjung paling banyak adalah topik 'hidup ini indah'.
Sebagaimana biasa, selalu ada pro-kontra dalam setiap wacana. Saya tidak perlu lagi menjelaskan alasan-alasan orang yang pro terhadap konsep hidup ini indah. Terutama, karena sudah teramat jelas bagi saya. Akan tetapi, tidak sedikit orang yang menganggap saya 'melebih-lebihkan' kenyataan tentang hidup ini indah. Secara lebih khusus,  mereka yang kurang terhibur oleh film Italia dengan judul Life Is Beautiful.

Tulisan ini bukan pledoi. Hanya renungan lebih lanjut dari pemikiran saya terdahulu tentang hidup ini indah. Mungkin saja tuduhan orang benar, bahwa saya suka melebih-lebihkan. Dan pengalaman yang berbeda bisa membawa kesimpulan yang berbeda juga.  Di tengah pro-kontra ini, izinkan saya memperjelas lagi argumen-argumen terdahulu.

Coba cermati tempat Anda duduk saat ini. Dengan jabatan, kesehatan, uang, serta dukungan keluarga yang Anda miliki saat ini - sekali lagi saat ini. Saya tidak tahu posisi Anda dalam hal ini. Saat tulisan ini dibuat, ada problema dalam jabatan yang saya duduki. Kesehatan saya lumayan bagus. Uang tergantung pembandingnya. Dukungan keluarga saya, syukur alhamdulilah. Dan duduk di rumah di pinggir kali yang anginnya sedang bertiup kencang.

Anda boleh menyimpulkannya dengan indah atau tidak indah. Bagi saya pribadi, di hotel berbintang lima plus, maupun di rumah yang berlantai tanah liat serta beratap jerami, selalu tersembunyi keindahan dan kenikmatan. Dengan penuh rasa syukur saya ucapkan ke Tuhan, saya pernah hidup di perkampungan kumuh dengan baju berceceran di lantai - karena tidak punya lemari baju. Pernah juga hidup dalam standar orang-orang yang berpunya. Dan yang namanya kenikmatan, dia hadir baik ketika di tempat kumuh, maupun di tempat yang disebut orang mewah.

Dalam kejernihan saya ingin bertutur ke Anda, di kedua tempat tadi manusia sama-sama memakan sepiring lebih nasi dan lauknya. Tidur sekitar enam sampai delapan jam semalamnya. Menghirup udara dengan jumlah yang tidak jauh berbeda. Kalau bepergian, menggunakan apapun bisa sampai di tempat tujuan. Dalam kasus diri saya, ada sebuah tambahan yang membuatnya lebih indah lagi : hidup bersama anak mertua yang sama, serta sejumlah anak kecil yang juga sama.

Beda antara dua kehidupan ekstrim yang pernah saya lalui hanya satu : keinginannya yang berbeda. Dulu, karena belum pernah melewati kehidupan yang disebut orang mewah dan megah, ada keinginan untuk sesegera mungkin sampai di sana. Sekarang, ketika kehidupan tadi sudah sempat dilalui dan dinikmati, ada kesenangan kadang-kadang untuk membayangkan kehidupan yang serba sederhana dulu.

Nah, di sinilah inti ide yang mau saya bagi ke Anda : keinginan itu membutakan. Di tempat dan keadaan manapun - dari kandang kerbau sampai kamar hotel berbintang lima plus, dari naik angkot sampai naik Jaguar, dari mengenakan jam tangan murahan sampai memakai Rolex - orang bisa dibutakan oleh keinginan.  Dan tidak hanya keinginan untuk menaik yang membutakan, keinginan untuk turunpun membutakan.

Coba cermati sejumlah keluarga yang akan berangkat berlibur. Ketika mempersiapkan segala sesuatunya, semua fikiran tertuju pada tujuan wisata. Entah keindahan pemandangan, makanan yang enak, hotel yang nyaman, atau berbelanja barang-barang kebutuhan. Tatkala sudah sampai di tempat tujuan - lengkap dengan badan yang lelah - semua fikiran tertuju pada rumah yang menenteramkan.  Dari lingkungan yang sudah biasa, tempat tidur yang menenteramkan, sampai dengan tiadanya beban untuk membawa tas kemana-mana. Anda lihat sendiri, fikiran lengkap dengan keinginannya, sudah membutakan banyak orang. Di rumah ketika mau berangkat membutakan kenikmatan tinggal di rumah. Di tempat wisata, keinginan membutakan orang untuk menikmati keindahan tempat wisata.

Di pojokan lain dari kehidupan, hal serupa teramat sering terjadi. Kenikmatan-kenikmatan hari ini, sering lewat percuma begitu saja, semata-mata karena banyak orang sudah buta oleh keinginan. Kalau kemudian saya mengajak orang untuk menyelami konsep 'hidup ini indah',  pada fikiran yang dibutakan keinginan, tentu saja jauh panggang dari api.

Sebagai manusia biasa, sayapun kadang dibutakan oleh keinginan. Setelah jadi direktur ingin jadi presiden direktur. Sesudah anak-anak sekolah di salah satu sekolah terbaik di Jakarta, ingin agar mereka segera ke luar negeri. Dan bila sang keinginan diikuti terus, maka buta dan tulilah kita dari semua berkah dan rahmat Tuhan. Syukur adalah kata yang tidak pernah mampir dalam rumah jiwa kita. Dan tanpa rasa syukur, siapapun dan di tingkat kehidupan yang setinggi langitpun hidup kita pasti menderita.

Entahlah, apakah saya sudah berhasil meyakinkan sahabat-sahabat yang masih skeptis terhadap ide tentang hidup ini indah, atau malah membuat mereka tambah tidak percaya. Yang jelas, kata-kata dan logika bukanlah cara yang paling tepat untuk berguru tentang kehidupan.  Ia tidak lebih dari daftar menu saja, atau petunjuk jalan saja. Untuk sampai di sana, kita tidak bisa hanya memandangi petunjuk jalannya. Jalan dan berangkatlah ke sana. Tugas saya memasang petunjuk jalan sudah selesai. Hanya Anda yang bisa membawa diri Anda ke sana.

BUKAN KARENA ITU

Ku tertarik bukan karena fisik
Ku suka bukan Karena payu dara
Ku doyan bukan karena kau rupawan
Tapi aku cinta karena kau yang ku puja

Ku melirik tidak karena kau cantik
Ku menoleh tidak karena kau saleh
Ku menghadap tidak akrena kau cakap
Tapi aku memandang karena kau membuatku tenang

Ku terpana bukan kerena kau jelita
Ku terlena bukan karena kau kaya
Ku terpesona bukan karena selera
Tapi ku tergila-gila karena kaulah yang ku cinta

SERPIHAN-SERPIHAN HARAPAN

DIMATAMU TERSIMPAN
SERPIHAN-SERPIHAN HARAPAN

Dalam setiap ku menatapmu
Teronta rasa dalam kalbu
Membujuk jiwa yang membisu
Untuk bilang aku rindu

Dalam setiap ku menatapmu
Tersemikan harapan rindu
Mewangi di lubuk jiwa
Menggelora bangkitkan asa

Walau waktu bergegas pergi
Memisahkan jarak kita berdua
Namun bayangmu selalu lengkap di mata
Menari di atas panggung sunyi

Dalam setiap ku menatapmu
Ku tau aku masih mencintaimu
Dalam setiap kehampaan waktu
Ku tau aku masih merindukanmu


Bandung 2008