Login With Facebook

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.
Tampilkan postingan dengan label hikmatul iman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hikmatul iman. Tampilkan semua postingan

"Bila Jodoh Tak Kunjung Tiba"


Assalamu`alaikum wr. wb.
Sahabat2 Rahimakumullah,Berikut saya fwd article dari majalah Ummi,


Kenyataan sehari2 ini sering meresahkan terutama sahabat2ku Ikhwan & Akhwat, tapi sebenarnya apabila kita mencermati lebih jauh, hal tsb merupakan tanda kasih sayang Allah kepada kita, kenapa ? Karena Allah lah yang paling tahu akan kebutuhan hamba-Nya. Mungkin dari bekal "ruhiyah" atau mungkin "jasadiyah". Disini lagi2 kita diharuskan untuk berhikmah dalam setiap hal, kemudian membuat action plan yang sesuai dengan kaidah2 syar'i... Nah..lho,.. :) Kembali lagi, kepada manusia, bahwa segala sesuatu harus di IKHTIYARKAN, disamping kita juga harus ikhtiyar dalam diri pribadi kita dengan terus menempa diri dengan bekal2 ruhiyah ataupun yang lain, adalah tanggungjawab sosial kita pula. Kalau saya baca kisah2 di jaman Rasulullah dulu,bahwa urusan jodoh adalah termasuk urusan ULIL AMRI, tapi rupanya ulil amrinya kemaren sedang disibukan dengan sembako, kemudian partai dan sekarang sibuk ama urusan Rudi Ramli dan Xanana, he he he, justkidding. Nah diatas baru salah satu saja, alternatif tinjauan kewajiban sosialnya saja, mau lengkap, bagaimana keterkaitan, peran & tanggung jawab sosial dalam urusan BARANG yang satu ini, silahkan cermati article berikut, syukur 2 kalau mau dikomentarin lebih lanjut...Begitulah komentar dari saya, minta maaf kalau terkesan "sok tahu"... hehe he,( abis sepi banget sih... milisnya ) Jazakumullah khairan katsiran.
Wassalam, Haris.

Bila Jodoh Tak Kunjung Tiba. Pasangan hidup adalah belahan jiwa. Tempat hati menemukan ketentraman dan kasih sayang. Tak heran, sebelum berjumpa dengannya, jiwa selalu mendamba. Konon jodoh seperti rezeki. Kadang muncul tanpa diduga, tetapi sering luput walau sudah jatuh bangun mengejarnya. Banyak cara manusia berburu jodoh. Dijodohkan barangkali cara paling tua. Biasanya orang tua atau kerabat yang lebih tua berperan dominan. Calon yang dipilihkan kadang masih terhitung kerabat atau tetangga yang sudah dikenal bobot,bibit dan bebetnya. Menurut Prof. Dr. Zakiah Darajat, seorang konsultan keluarga, perjodohan oleh orang tua merupakan salah satu cara yang baik,"Orang tua biasanya pandangannya lebih jauh, lebih ke depan. Misalnya, dulu itu orang dijodohkan orang tua karena orang tua kenal betul keturunannya. Kalau anak-anak sekarang kan enggak begitu....," ungkap Zakiah. Menjaga hubungan silaturahmi adalah salah satu alasan orang tua menjodohkan anaknya. Banyak pasangan telah membuktikan keampuhan cara ini. Perkawinan pasangan tua yang langgeng puluhan tahun merupakan bukti keberhasilannya. Namun, ada juga orang tua yang menjodohkan anak dengan motivasi lain misal karena harta atau kedudukan. Motivasi ‘tertentu’ tersebut seringkali melahirkan pemaksaan kehendak terhadap anak. Alhasil, tak sedikit rumah tangga yang berakhir tragis. Beberapa dekade belakangan perjodohan lewat orang tua atau kerabat tak lagi populer. Bahkan kerap dicandai sebagai cara mencari jodoh ala zaman Siti Nurbaya Pengaruh budaya dan nilai dari luar telah mengubah cara pandang sebagian masyarakat. Mencari pasangan sendiri lebih disukai. Supaya lebih sesuai dengan selera dan aspirasi, barangkali. Sebelum memasuki jenjang perkawinan, masing-masing pihak merasa perlu mengenal calon pasangan hidupnya lebih jauh. Akhirnya, orang tua pun menyerahkan sepenuhnya pada anak. Muncullah "tradisi" pacaran. Dalam perkembangannya pacaran kemudian menyimpang menjadi sekedar ajang "bersenang-senang" dengan lawan jenis tanpa ikatan dan komitmen yg belum jelas. Bahkan belakangan batasan tentang interaksi antar pacar menjadi semakin permisif dengan titik ekstrim, berzina. Pacaran sebagai cara mencari jodoh menurut Zakiah mempunyai kelemahan. "Menurut saya, ketika orang berpacaran, maka pada saat itu mereka menjadi buta. Biasanya yang jelek pun jadi terlihat baik. Cinta membuat semua keburukan akan terlihat baik-baik saja. Katakanlah kebaikannya ada 3, kejelekannya ada 9, bisa-bisa yang kelihatan cuma yang 3 itu saja. Pacaran juga bukan jaminan rumah tangganya akan baik. Ada yang sudah pacaran 10 tahun, terus tidak jadi menikah. Semakin lama pacaran kan bikin orang bosan semua. Dalam agama sebenarnya pacaran tidak diperkenankan. Apalagi dengan gaya pacaran sekarang yang cenderung serba bebas," kata Zakiah menjelaskan lebih lanjut. Biro Jodoh, Why Not ... Bila orang tua sudah ‘lepas tangan’, sementara tradisi pacaran saat ini membuat ‘ngeri’, apa yang harus dilakukan? Ketika itu orang mulai berpikir tentang cara lain. Saat usia semakin bertambah dan keinginan untuk berumah tangga semakin kuat, atau kesibukan yang sangat tinggi membuat biro jodoh menjadi alternatif yang banyak dilirik. Setidaknya rubrik biro jodoh di koran dan media lain membuktikan hal itu. Setiap minggu dapat dijumpai deretan kode dan spesifikasi orang yang ingin mendapatkan pasangan. Kadang ada pula iklan tentang pertemuan sebagai ajang saling kenal bagi anggota biro jodoh tertentu. Namun, tak semua orang memiliki kesiapan untuk menjadikan biro jodoh sebagai alternatif. Masih banyak orang merasa malu menjadi anggota biro jodoh. Dalam pandangan mereka, tidak pantas bagi wanita bertindak agresif menyodor-nyodorkan diri. Selain itu ada pula anggapan, menjadi anggota biro jodoh identik dengan mengakui ketidakmampuan diri mencari pasangan. Dianggap sebagai orang yang tidak pandai bergaul. Lebih kasar lagi dianggap sebagai orang yang tidak laku. Sehingga, biro jodoh adalah alternatif terakhir ketika semua jalan telah buntu. Ini diperkuat dengan data, mayoritas peserta biro jodoh berusia ‘rawan’ nikah. Image negatif tentang biro jodoh tidak terlepas dari cara-cara yang dilakukan oleh biro jodoh itu sendiri. Misalnya, memampang data anggota dengan gaya vulgar. Dalam beberapa kasus, terjadi tindak pelecehan baik dilakukan oleh pengelola atau sesama anggota (lihat box). Kondisi ini makin membuat orang ‘pikir-pikir’ untuk menjadi anggota biro jodoh. Haruskah kenyataan ini membuat kita mundur? Menurut Erry Soekresno, psikolog, kita tidak perlu malu menjadi anggota biro jodoh. Ini lebih baik ketimbang malu tanpa usaha apa-apa. Bahkan akhirnya stres. Masalahnya sekarang tinggal bagaimana memilih biro jodoh yang baik. Sebab diperlukan adanya syarat-syarat tertentu untuk menilai baik tidaknya sebuah biro jodoh. Peran Biro Jodoh Biro jodoh sebagai alternatif diakui oleh Prof. DR. Zakiah Darajat dan DR. H. Setiawan Budi Utomo, seorang pakar syariah Islam. "Biro jodoh merupakan sarana yang baik untuk mencari jodoh. Sekarang ini kan orang banyak lari ke dukun, paranormal dan sebagainya untuk mencari pasangan. Dari pada melakukan cara-cara syirik tersebut, mengapa tidak coba dengan biro jodoh?" demikian Setiawan Budi. Tentu saja ada prinsip-prinsip yang tidak boleh dilanggar oleh lembaga perjodohan tersebut. Prinsip-prinsip tersebut menurut Setiawan adalah :
1.       Ta’awanu ‘alal birri wat taqwa, bahwa pernikahan adalah perwujudan dari kebajikan dan ketaqwaan. Oleh karena itu, harus melalui proses yang baik.
2.       Perjodohan itu bukan sekedar mempertemukan dua orang manusia. Karena itu harus mempertimbangkan kriterianya. Ada hak untuk memilih, baik untuk laki-laki maupun perempuan. Dalam memilih bukan sekedar memilih karena kecantikan / ketampanannya. Disini biro jodoh berperan sebagai mediator atau mungkin lebih tepat disebut sebagai konsultan pernikahan. Rasulullah SAW seringkali dimintakan pendapatnya tentang perjodohan. Pernah ada seorang wanita yang datang kepada beliau dan minta pertimbangan tentang dua orang yang menjadi calon suami. Kemudian Rasulullah memberikan pendapatnya, calon yang pertama itu ringan tangan (suka memukul) dan calon yang kedua orangnya pelit. Pilihan diserahkan pada yang bersangkutan. Fungsi biro jodoh, lanjut Direktur Pusat Terjemah El Aufia ini adalah untuk menjembatani orang-orang yang memerlukan bantuan mendapatkan jodoh yang shaleh dan shalehat. Secara informal, fungsi ini sudah lama dijalani oleh orang-orang yang memahami Islam dengan baik. Seperti yang dilakukan oleh forum-forum kajian Islam. Ustadz atau ustadzahnya menjadi perantara perjodohan murid-muridnya. Ada seorang ustadzah yang telah berhasil menjodohkan lebih dari dua puluh orang. Alhamdulillah, rumah tangga mereka berjalan dengan aman-aman saja. Adanya biro jodoh ‘formal’ membuka peluang lebih luas bagi orang yang ingin menikah dengan pasangan yang shaleh/shalehat. Jangan Asal Pilih Dalam memilih biro jodoh, Zakiah Darajat menekankan perlunya birojodoh yang bertanggungjawab, jangan asal pilih. Tanggung jawab disini menurut beliau setidaknya harus memenuhi beberapa kriteria. "Biro jodoh ituharus bertanggungjawab akan kebenaran data-data yang masuk. Selain itu, data-datanya juga harus lengkap, jangan setengah-setengah. Biro jodoh juga harus memberikan bimbingan atau konsultasi psikologi kepada pesertanya. Karena berdasarkan pengalaman saya selama menjadi konsultan keluarga, kebanyakan pasangan yang tidak dapat mempertahankan rumah tangganya adalah karena mereka tidak dapat memahami satu sama lain," papar wanita yang baru-baru ini menerima bintang Mahaputera dari Presiden Habibie. Setiawan Budi juga menekankan perlunya tanggung jawab pengelola biro jodoh. "Pelaksananya ini harus bertanggunjawab untuk menseleksi orang-orang yang ikut biro jodoh. Apakah ia benar-benar orang yang serius dan bertanggungjawab, atau sekedar iseng-iseng belaka. Prinsip dasarnya adalah ta’awun (bekerja sama) menolong karena Allah, jangan semata-mata ajang bisnis." Kemudian, baik laki-laki maupun perempuan memiliki hak yang sama untuk memilih jodohnya. Jangan sampai perempuan hanya menjadi obyek saja. Perempuan berhak pula untuk melihat. Pertemuan yang dilakukan juga harus dalam rambu-rambu yang benar, jangan sekedar pesta-pesta.

Bagi Setiawan, biro jodoh yang baik memiliki empat kriteria.
1.       Ikhlas. Mengelola biro jodoh termasuk ibadah juga. Nikah itu kansarana untuk menunjang orang beribadah.
2.       Selektif. Maksudnya menjaga dari orang-orang yang iseng.
3.       Mengedepankan kaidah ‘mempermudah jangan mempersulit’.
4.       Memperhatikan kufu’ (kesepadanan). Selain itu, menurut Zakiah biro jodoh seharusnya juga dapat menjamin kerahasiaan anggota. Para pengelola harus dapat mengatur mekanisme pertemuan dengan cara yang ma’ruf. Mengenai citra negatif yang terlanjur melekat pada biro jodoh, Setiawan Budi berpendapat, ini dapat diminimalisir dengan mengubah pandangan kita tentang biro jodoh. Jangan jadikan biro jodoh sebagai alternatif terakhir, tapi jadikan ia sebagai sarana efektif untuk mendapatkan pasangan yang lebih baik. Ada baiknya biro jodoh tidak membatasi usia anggota biro jodoh. Berapa pun, sepanjang dinilai layak nikah (serius dan matang) ia dapat diterima dan diproses bila ada kecocokan. Artinya daftar antrian pun tidak semata-mata berdasarkan usia. Selain itu, kita jangan menggantungkan harapan sepenuhnya pada biro jodoh. Ingatlah, jodoh itu ditangan Allah. Kita cuma berusaha. Dengan pemahaman ini, motivasi memasuki biro jodoh bukan semata-mata mencari pasangan. Tapi dapat juga dijadikan sebagai sarana menimba ilmu atau bekalan untuk berumah tangga. Bila biro jodoh sudah memenuhi kriteria diatas, dan kita pun telah memiliki image positif tentang biro jodoh, mengapa tidak mencoba?(Ina/DSW)


Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Sekedar menanggapi sekaligus biar lebih rame.... :-) Benar sahabat bilang, kita memang harus berusaha, berikhtiar apapun bentuk ikhtiar, sepanjang yang kita lakukan itu untuk tujuan yang benar Insya Allah akan memperoleh ridlo-Nya. Seringkali dalam upaya ini banyak kendala terjadi yang meyebabkan keputus-asaan, karena apa yang kita pohonkan belum tercapai juga. Kenyataan ini bukan hanya karena "kekurang-siapan" kita mendapatkannya, bukan. Maaf sahabatku bukan maksud saya untuk membuat 'front' baru......:). Masih segar dalam ingatan kita kisah yang dikirim di beberapa milis tentang keputus-asaan seorang hamba Allah karena do'anya yang belum juga dikabulkan. Saat dia menghentikan do'a itu bermimpilah, salah satu dialog yang muncul saya cuplikan sbb : "Wahai Allah yang menciptakan malam dan siang, yang dengan mudah menciptakan diriku yang sempurna ini. Karena Engkau tidak mengabulkan permintaanku hingga saat ini, mulai besok aku tidak akan meminta dan sholat lagi kepadaMu, aku akan lebih rajin berusaha agar tidaklah terus beralasan bahwa semua tergantung dari-Mu. Maafkan aku selama ini, ampuni aku selama ini menganggap bahwa diriku sudah dekat denganMu !" Ampuni aku yaa Al 'Aziiz, yaa Al Ghofuurur Rohiim!". Tersentak beliau, itu..._u kata-kataku semalam_ ...celaka, pikirnya. Kemudian terdengar suara lagi : "Sayang sekali, padahal Aku sangat menyukainya, sangat mencintainya, dan Aku paling suka melihat wajahnya yang terpendam menangis, bersimpuh dengan menengadahkan tangannya yang gemetar kepadaKu, dengan bisikan-bisikan permohonannya kepadaKu, dengan pemintaan-permintaannya kepadaKu, sehingga tak ingin cepat-cepat Kukabulkan apa yang hendak Aku berikan kepadanya agar lebih lama dan sering Aku memandang wajahnya, Aku percepat cintaKu padanya dengan Aku bersihkan ia dari daging-daging haram badannya dengan sakit yang ringan. Aku sangat menyukai keikhlasan hatinya disaat Aku ambil putranya, disaat Kuberi ia cobaan tak pernah Ku dengar keluhan kesal dan menyesal di mulutnya. Aku rindu kepadanya... rindukah ia kepadaKu, hai malaikat-malaikatKu ?" Suasana hening, tak ada jawaban. Menyesallah beliau atas pernyataannya semalam, ingin ia berteriak untuk menjawab dan minta ampun tapi suara tak terdengar, bising dalam hatinya karenanya. "Ini aku Yaa Robbi, ini aku. Ampuni aku yaa Robbi, maafkan kata-kataku !" semakin takut rasanya ketika tidak tampak mereka mendengar, mengalirlah air matanya terasa hangat di pipinya. Astaghfirullah !! Terbangun ia, mimpii... Segeralah ia berwudhu, dan kembali bersujud dengan bertambah khusyu', kembali ia sholat dengan bertambah panjang dari biasanya, kembali ia bermunajat dan berbisik-bisik dengan Al-Kholiq dan berjanji tak akan lagi ia ulangi sikapnya malam tadi selama-lamanya. "...aa Allah, Yaa Robbi jangan engkau ungkit-ungkit kebodohanku yang lalu, ini aku hambaMu yang tidak pintar berkata manis, datang dengan berlumuran dosa dan segunung masalah dan harapan, apapun dariMu asal Engkau tidak membenciku aku rela...aa Allah, aku rindu padaMu..._" Semoga menambah keimanan dan ketekunan kita dalam mengerjakan sholat lail...amiin. Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

"100 LANGKAH MENUJU KESEMPURNAAN IMAN


Rasulullah saw bersabda: "Barang siapa menghadap Allah (meninggal dunia), sedangkan ia biasa melalaikan Shalatnya, maka Allah tidak mempedulikan sedikit-pun perbuatan baiknya (yang telah ia kerjakan tsb)".
(Hadist Riwayat Tabrani)

Assalamualaikum wr.wb
Terlampir di bawah ini adalah kajian yang sangat bagus yang saya dapatkan dari akhwat kita, Sdri. Santi Shiva, mengenai
"100 Langkah Menuju Kesempurnaan Iman", yang sangat bagus untuk diamalkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Semoga bermanfaat.

100 Langkah Menuju Kesempurnaan Iman :

1.            Bersyukur apabila mendapat nikmat;
2.            Sabar apabila mendapat kesulitan;
3.            Tawakal apabila mempunyai rencana/program;
4.            Ikhlas dalam segala amal perbuatan;
5.            Jangan membiarkan hati larut dalam kesedihan;
6.            Jangan menyesal atas sesuatu kegagalan;
7.            Jangan putus asa dalam menghadapi kesulitan;
8.            Jangan usil dengan kekayaan orang;
9.            Jangan hasud dan iri atas kesuksesan orang;
10.        Jangan sombong kalau memperoleh kesuksesan;
11.        Jangan tamak kepada harta;
12.        Jangan terlalu ambisius akan sesuatu kedudukan;
13.        Jangan hancur karena kezaliman;
14.        Jangan goyah karena fitnah;
15.        Jangan bekeinginan terlalu tinggi yang melebihi kemampuan diri;
16.        Jangan campuri harta dengan harta yang haram;
17.        Jangan sakiti ayah dan ibu;
18.        Jangan usir orang yang meminta-minta;
19.        Jangan sakiti anak yatim;
20.        Jauhkan diri dari dosa-dosa yang besar;
21.        Jangan membiasakan diri melakukan dosa-dosa kecil;
22.        Banyak berkunjung ke rumah Allah (masjid);
23.        Lakukan shalat dengan ikhlas dan khusyu;
24.        Lakukan shalat fardhu di awal waktu, berjamaah dan di masjid;
25.        Biasakan shalat malam;
26.        Perbanyak dzikir dan do'a kepada Allah;
27.        Lakukan puasa wajib dan puasa sunat;
28.        Sayangi dan santuni fakir miskin;
29.        Jangan ada rasa takut kecuali hanya kepada Allah;
30.        Jangan marah berlebih-lebihan;
31.        Cintailah seseorang dengan tidak berlebih-lebihan;
32.        Bersatulah karena Allah dan berpisahlah karena Allah;
33.        Berlatihlah konsentrasi pikiran;
34.        Penuhi janji apabila telah diikrarkan dan mintalah maaf apabila karena sesuatu sebab tidak dapat dipenuhi;
35.        Jangan mempunyai musuh, kecuali dengan iblis/syetan;
36.        Jangan percaya ramalan manusia;
37.        Jangan terlampau takut miskin;
38.        Hormatilah setiap orang;
39.        Jangan terlampau takut kepada manusia;
40.        Jangan sombong, takabur dan besar kepala;
41.        Bersihkan harta dari hak-hak orang lain;
42.        Berlakulah adil dalam segala urusan;
43.        Biasakan istighfar dan taubat kepada Allah;
44.        Bersihkan rumah dari patung-patung berhala;
45.        Hiasi rumah dengan bacaan Al-Quran;
46.        Perbanyak silaturahmi;
47.        Tutup aurat sesuai dengan petunjuk Islam;
48.        Bicaralah secukupnya;
49.        Beristri/bersuami kalau sudah siap segala-galanya;
50.        Hargai waktu, disiplin waktu dan manfaatkan waktu;
51.        Biasakan hidup bersih, tertib dan teratur;
52.        Jauhkan diri dari penyakit-penyakit bathin;
53.        Sediakan waktu untuk santai dengan keluarga;
54.        Makanlah secukupnya tidak kekurangan dan tidak berlebihan;
55.        Hormatilah kepada guru dan ulama;
56.        Sering-sering bershalawat kepada nabi;
57.        Cintai keluarga Nabi saw;
58.        Jangan terlalu banyak hutang;
59.        Jangan terlampau mudah berjanji;
60.        Selalu ingat akan saat kematian dan sadar bahwa kehidupan dunia adalah kehidupan sementara;
61.        Jauhkan diri dari perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat seperti mengobrol yang tidak berguna;
62.        Bergaullah dengan orang-orang shaleh;
63.        Sering bangun di penghujung malam, berdoa dan beristighfar;
64.        Lakukan ibadah haji dan umrah apabila sudah mampu;
65.        Maafkan orang lain yang berbuat salah kepada kita;
66.        Jangan dendam dan jangan ada keinginan membalas kejahatan dengan kejahatan lagi;
67.        Jangan membenci seseorang karena paham dan pendirian;
68.        Jangan benci kepada orang yang membenci kita;
69.        Berlatih untuk berterus terang dalam menentukan sesuai pilihan;
70.        Ringankan beban orang lain dan tolonglah mereka yang mendapatkan kesulitan;
71.        Jangan melukai hati orang lain;
72.        Jangan membiasakan berkata dusta;
73.        Berlakulah adil, walaupun kita sendiri akan mendapatkan kerugian;
74.        Jagalah amanah dengan penuh tanggung jawab;
75.        Laksanakan segala tugas dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan;
76.        Hormati orang lain yang lebih tua dari kita;
77.        Jangan membuka aib orang lain;
78.        Lihatlah orang yang lebih miskin daripada kita, lihat pula orang yang lebih berprestasi dari kita;
79.        Ambilah pelajaran dari pengalaman orang-orang arif dan bijaksana;
80.        Sediakan waktu untuk merenung apa-apa yang sudah dilakukan;
81.        Jangan minder karena miskin dan jangan sombong karena kaya;
82.        Jadilah manusia yang selalu bermanfaat untuk agama, bangsa dan negara;
83.        Kenali kekurangan diri dan kenali pula kelebihan orang lain;
84.        Jangan membuat orang lain menderita dan sengsara;
85.        Berkatalah yang baik-baik atau tidak berkata apa-apa;
86.        Hargai prestasi dan pemberian orang;
87.        Jangan habiskan waktu untuk sekedar hiburan dan kesenangan;
88.        Akrablah dengan setiap orang, walaupun yang bersangkutan tidak menyenangkan;
89.        Sediakan waktu untuk berolahraga yang sesuai dengan norma-norma agama dan kondisi diri kita;
90.        Jangan berbuat sesuatu yang menyebabkan fisik atau mental kita menjadi terganggu;
91.        Ikutilah nasihat orang-orang yang arif dan bijaksana;
92.        Pandai-pandailah untuk melupakan kesalahan orang dan pandai-pandailah untuk melupakan jasa kita;
93.        Jangan berbuat sesuatu yang menyebabkan orang lain terganggu, dan jangan   berkata sesuatu yang dapat menyebabkan orang lain terhina;
94.        Jangan cepat percaya kepada berita jelek yang menyangkut teman kita, sebelum dicek kebenarannya;
95.        Jangan menunda-nunda pelaksanaan tugas dan kewajiban;
96.        Sambutlah uluran tangan setiap orang dengan penuh keakraban dan keramahan dan tidak berlebihan;
97.        Jangan memforsir diri untuk melakukan sesuatu yang di luar kemampuan diri;
98.        Waspadalah akan setiap ujian, cobaan, godaan dan tantangan. Jangan lari dari kenyataan kehidupan;
99.        Yakinlah bahwa setiap kebajikan akan melahirkan kebaikan dan setiap kejahatan akan melahirkan kerusakan;
100.    Jangan sukses diatas penderitaan orang lain dan jangan kaya dengan memiskinkan orang;